oleh

Menelusuri Jejak Kudis atau Scabies: Bagaimana Kondisi Lingkungan Rusun Mempengaruhi Penularannya

-Opini, dibaca 219 x

Series: Lesson to Learn from English Camps 2024

 
Oleh:
Adinda Rizka Putri Salsabillah, Annisa Mumtaz Zulfa, Apriliani Diva Pramita, Aulia Miftahurrahma, Azzurah Ahmad, Fitriani, Naela laudya, Nur Annisa
 
Email: adindarizkaps30114@gmail.com
(Mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat, FKM Unsri)

 
 
Gambar 1 : Contoh Scabies pada Sela Jari (Sumber foto : www.kompas.com )
 
Apa itu Scabies?
 
Scabies atau sering dikenal dengan Kudis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi tungau sarcoptes scabiei varietas hominis. Scabies rentan terjadi pada kelompok anak-anak, lanjut usia dan penduduk miskin. Scabies dapat terjadi di hampir semua bagian tubuh manusia tetapi scabies sering ditemukan di beberapa area tubuh, seperti sela-sela jari, telapak tangan, pergelangan tangan, pergelangan kaki, paha bagian dalam, areola pada perempuan, genitalia pada laki-laki, dan area lipatan kulit, misalnya siku, lutut, dan lipatan pinggul. Penyakit kudis atau scabies mempunyai masa inkubasi yang cukup cepat, sekitar 4—6 minggu bagi yang perlu pernah terkena scabies dan 1—4 hari bagi yang sudah pernah terkena scabies. Selain itu, jumlah tungau yang masuk dan kekebalan tubuh juga mempengaruhi masa inkubasi penyakit scabies. 
 
Penularan scabies dapat melalui kontak langsung dengan penderita scabies dan kontak secara tidak langsung, bisa melalui barang pribadi seperti, handuk, baju, atau kasur yang sudah terkontaminasi tungau. Scabies mungkin tidak sampai membahayakan jiwa tetapi hal ini cukup menjadi masalah kesehatan yang diperhatikan. Penderita scabies biasanya mengalami gatal yang parah saat malam hari sehingga dapat mengganggu ketenangan istirahat. Hal tersebut terjadi karena suhu tubuh naik dan aktivitas fisik menurun saat malam hari sehingga tungau scabies lebih aktif menggali ke dalam lapisan atas kulit untuk bertelur dan mencari makanan, terutama darah manusia.
 
Faktor resiko meningkatnya kasus Scabies
 
Foto 1: Kurangnya hygiene yang baik dapat meningkatkan risiko terkontaminasi tungau sarcoptes scabiei.
               
Gambar 2 dan 3: Tungau Scabies dan Kebiasaan mencuci tangan 
(Sumber foto : www.orami.co.id dan  www.kompas.com) 
 
Salah satu penyebab scabies adalah kurangnya hygiene yang baik sehingga akan berdampak pada kebersihan individu yang dapat terkontaminasi tungau sarcoptes scabiei. Hygiene yang buruk, seperti kebiasaan tidak mencuci tangan akan meningkatkan risiko terkena scabies karena tungau tersebut dapat bertahan hidup pada permukaan kulit atau benda-benda yang terkontaminasi oleh orang yang terinfeksi. Infeksi tersebut dapat menyebar melalui kontak kulit-ke-kulit dengan penderita scabies. Dengan hygiene yang baik, seperti menerapkan kebiasaan mencuci tangan agar berkurang risiko infeksi terkena scabies. 
 
Foto 2: Kepadatan penduduk yang dapat meningkatkan risiko penularan scabies.

Gambar 4 : Kondisi lingkungan kampung literasi 26 ilir (Dokumentasi tim penulis)
 
Faktor risiko scabies atau kudis, termasuk kepadatan penduduk dan kebersihan lingkungan yang buruk. Faktor-faktor ini dapat meningkatkan risiko penularan dan penyebaran scabies di rumah susun, kampung literasi 26 ilir. Kepadatan penduduk yang tinggi tersebut dapat meningkatkan risiko penularan scabies, karena tungau dapat dengan mudah berpindah dari satu orang ke orang lain melalui kontak langsung.
 
Foto 3: Bangunan yang lembab dapat mengakibatkan penyakit scabies.
 
Gambar 5 : Kondisi bangunan di Kampung Literasi 26 Ilir (Dokumentasi tim penulis)
 
Bangunan yang lembab dapat menjadi tempat tumbuh parasit atau tungau sarcoptes scabiei sehingga dapat memicu penyakit scabies atau kudis. Penyakit scabies tersebut rentan menular akibat kurangnya pengetahuan sanitasi yang baik pada lingkungan rumah. Selain itu, faktor iklim tropis juga dapat mendukung kehidupan tungau scabies. Iklim tropis yang lembap mendukung penularan scabies antar individu, terutama dalam kondisi penduduk yang padat.
 
Foto 4 : Pakaian yang dijemur ditempat lembab dan dekat dengan sumber  penyebab tungau scabies
 
Gambar 6 : Kondisi lingkungan kampung literasi 26 Ilir (Dokumentasi tim penulis)
 
Penyebaran tungau scabies atau kudis salah satunya dapat melalui pakaian. Pakaian dalam foto dijemur ditempat yang kurang baik karena lembab. Menjemur Pakaian yang diletakkan di tempat tersebut dapat menjadi sarana penyebaran atau perpindahan tungau Scabies pada pakaian atau barang pribadi lainnya. Dengan perpindahan tungau scabies dari tempat awalnya kemudian ke pakaiannya.
 
Penyakit scabies tidak hanya dapat menularkan pada orang lain tetapi juga dapat mengganggu waktu istirahat kita. Oleh karena itu, kita perlu mewaspadai penyakit kudis atau scabies ini dengan berbagai tips dan langkah seperti berikut:
 
1. Hindari berbagi memakai barang pribadi orang lain (handuk, baju)
2. Bersihkan pakaian, handuk, dan kasur secara teratur untuk mencegah tumbuhnya tungau
3. Hindari kontak langsung dengan orang yang sedang mengalami penyakit scabies
4. Cuci tangan dengan bersih dan teratur setelah berkegiatan di luar ataupun kotor
 
Jika saya seorang Peneliti Epidemiologi: Saya akan melakukan penelitian terhadap penyakit kudis atau scabies di kampung literasi dengan menggunakan desain case control. Variabel atau faktor paparan yang perlu dikumpulkan pada kasus ini adalah lingkungan dan kepadatan penduduk dengan outcome penyakit scabies pada Kampung Literasi 26 Ilir. Penelitian ini akan menggunakan desain case control untuk mengetahui pengaruh faktor sanitasi terhadap penyakit scabies di Kampung Literasi 26 Ilir. Desain ini dipilih karena memiliki kelebihan seperti lebih hemat biaya dan waktu, meskipun memiliki kelemahan seperti bias seleksi dan informasi. Dengan demikian faktor risiko lain seperti kontak penderita, usia, dan jenis kelamin juga perlu dipertimbangkan.
 
Lesson to learn : Setelah observasi, didapati bahwa lingkungan di Kampung Literasi 26 Ilir memang kurang cukup baik dalam sanitasinya tetapi tidak banyak yang menderita penyakit kudis atau scabies. Hal ini mungkin disebabkan oleh hygiene yang diterapkan pada masing-masing individu berbeda. Dengan meningkatkan hygiene pada diri sendiri dapat mengurangi dampak resiko dari faktor sanitasi. Dari hasil observasi tersebut dapat kita terapkan ilmu kesehatan masyarakat di Kampung Literasi 26 Ilir dengan melakukan promosi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hygiene pada diri sendiri sebagai bentuk pencegahan dari penularan atau infeksi penyakit. 
 
Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan agar terhindar dari penyakit kudis atau scabies. Mari kita bersama-sama menjaga kesehatan kulit dan cegah scabies!
 
Editor: Najmah & Erfiana Umar
 
Sertifikat
Sertifikat kampung English
Piagam 3

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar

0 comments