oleh

Rusunawa Sehat: Antara Realita dan Harapan

-Opini, dibaca 425 x

Series : Lesson to Learn from English Camps 2024

Oleh : 
Alicia Grace C.H , Aulia Rahmaningtiyas , Faradilla Putri Utami , Nia Karolina , Revanny Niken Putri , Riska Wulan Sagita, Rizki Nurul Fadhillah , Widya Pransiska 

Email: aliciagrace1612@gmail.com, dkk
(Mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat, FKM Unsri)

 
Rumah sehat adalah rumah yang memenuhi kriteria antara lain, akses air minum, akses jamban sehat, lantai, ventilasi, dan pencahayaan. Untuk mewujudkan rumah sehat tersebut ada beberapa indikator yang digunakan dalam membuat hunian sehat, yaitu rumah harus memiliki pencahayaan, pengudaraan; ruang gerak yang cukup; memberikan ruang privasi yang dan lingkungan komunikasi yang baik bagi setiap orang; mencegah penyakit menular di dalam rumah dengan memastikan air bersih; pengolahan tinja dan limbah yang baik; area yang aman dari hama seperti tikus; sinaar matahari yang cukup; dan konstruksi yang kokoh seperti pondasi, lantai, dinding, langit-langit, atap, serta dinding 
 
Selain kriteria yang harus dipenuhi untuk dianggap sebagai hunian rumah sehat, adapun asas yang harus dipenuhi dalam pengembangan aksesibilitas pada bangunan gedung dan lingkungan yaitu 4K (Kemudahan pergi kemanapun tanpa bantuan; Kegunaan semua tempat dapat diakses semua orang; Keselamatan bagi semua orang; dan Kemandirian mempergunakan setiap tempat tanpa bantuan orang lain).
 
Foto 1 : Perbandingan terhadap bangunan di Kampung Literasi, 24 Ilir
 
 Gambar 1 : Bangunan yang kurang terawat dan bangunan yang bersih serta terawat (Dokumentasi tim penulis dan http://dekoruma.com/)
 
Gambar ini menunjukkan sebuah bangunan tua dimana cat di tembok sudah mengelupas dan terlihat kusam, atapnya yang terbuat dari seng sudah terlihat berkarat.
 
Bangunan yang biasanya menjadi tempat ternyaman untuk beristirahat tetapi dapat dilihat pada gambar kanan masih banyak memiliki kekurangan. Bangunan tersebut kurang memiliki ventilasi yang cukup sehingga tidak efektif untuk pertukaran udara. Seharusnya bangunan memiliki ventilasi udara yang cukup seperti pada gambar sebelah kiri agar memaksimalkan pertukaran udara. Banyak jendela yang sudah tidak ada kacanya lagi dan hanya ditutupi dengan tripleks dapat mengakibatkan kurangnya cahaya matahari yang masuk dan bangunan akan menjadi lembab, tempat yang lembab berisiko tumbuhnya hama dan jamur yang dapat berdampak bagi kesehatan. Seharusnya jendela yang cocok untuk digunakan seperti pada gambar disampingnya karena dengan adanya jendela dapat memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam ruangan dan menciptakan ruangan yang terang dan tidak lembab, tentunya dapat menghemat listrik pada siang hari, serta dapat tercapainya pertukaran udara yang sehat.
 
Foto 2 : Perbandingan terhadap tembok di Kampung Literasi, 24 Ilir
  
Gambar 2 : Tembok yang lembab dan tembok yang bersih (Dokumentasi tim penulis dan http://kompas.com/)

Seperti yang ada pada gambar diatas, menunjukkan sebuah tembok yang mengalami kelembaban. Kelembaban pada tembok dapat menyebabkan kerusakan struktural, pertumbuhan jamur dan lumut, jamur dan lumut dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti alergi dan asma serta menjadi tempat berkembang biak bagi serangga yang membuat tidak nyaman. Hal ini terjadi karena beberapa hal seperti kebocoran air dari atap, pipa, atau saluran air, dan juga ventilasi yang buruk di ruangan. Alangkah baiknya tembok dapat dirawat dengan cara memeriksa atap, pipa, dan saluran air untuk memastikan tidak ada kebocoran dan bisa juga dengan cara meningkatkan ventilasi di ruangan dengan membuka jendela serta memasang ventilasi. Tembok yang bersih dan tidak lembab memberikan kesan rapi, indah, dan nyaman pada ruangan. Tembok seperti ini juga lebih sehat untuk penghuni karena tidak menjadi tempat tumbuhnya jamur dan bakteri.
 
Foto 3 : Perbandingan terhadap tangga di Kampung Literasi, 24 Ilir
  
Gambar 3 : Tangga yang tidak memiliki dan memiliki pegangan (Dokumentasi Tim Penulis dan https://eticon.co.id/persyaratan-kemudahan-bangunan/)
 
Tangga yang ada di kampung literasi tidak sesuai dengan standar yang ada. Tangga tersebut tidak ada pegangan tangan, pipa di tengah tangga dan terlihat berlumut. Seharusnya tangga tersebut harus mempunyai pegangan seperti contoh gambar tangga yang ada di sebelahnya agar dapat mengurangi risiko tergelincir atau jatuh.
 
Jika kami menjadi seorang Peneliti: Maka kami akan melakukan penelitian tentang Bahaya Kondisi Bangunan Terhadap Keselamatan dan Kesehatan Penduduk di Rusunawa 26 Ilir dengan menggunakan studi desain Kohort. Kami dapat menyelidiki hubungan antara paparan lingkungan kumuh dengan faktor risiko dan prevalensi penyakit atau masalah kesehatan lainnya dengan menggunakan desain penelitian ini. 
 
Desain penelitian ini memungkinkan pengumpulan data melalui pemeriksaan kesehatan, wawancara, dan survei. Serta, dapat menentukan apakah penyakit atau masalah kesehatan lainnya disebabkan oleh paparan faktor risiko di daerah kumuh. Salah satu kekurangan studi desain kohort adalah membutuhkan waktu yang lama karena perlu melakukan pengamatan sepanjang waktu dan biaya yang cukup mahal.
 
Variabel yang di gunakan dalam penelitian ini :
1. Kondisi bangunan
2. Tingkat keamanan tangga
 
Lesson To Learn: Dari hasil observasi kelompok kami bahwa meskipun kita memiliki harapan untuk menciptakan rusunawa yang aman dan sehat bagi masyarakat, realitasnya seringkali menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan tersebut dengan kondisi sebenarnya. Artikel ini mengajarkan kita pentingnya menghadapi realita yang ada dengan jujur dan tidak mengabaikan tantangan yang dihadapi dalam mencapai standar keamanan dan kesehatan yang diinginkan. Dengan mengakui perbedaan ini, kita dapat mulai mengambil langkah-langkah konkret untuk memperbaiki keadaan, seperti meningkatkan pengawasan, memperbaiki infrastruktur, dan melibatkan pemerintah dan masyarakat dalam proses perbaikan tersebut.
 
Editor : Najmah
 
Sertifikat
Sertifikat kampung English
Piagam 3

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar

0 comments