oleh

Mural (Lukisan dinding) dan Edukasi Kebersihan Lingkungan di Kampung 26 Ilir Kota Palembang

-Opini, dibaca 335 x

Series: Lesson to Learn From English Camps 2024

 
Oleh: 
Juliyanti Recheilla Gultom, Atin Sefiana, Meyra Syania Putri, Nyimas Dwi Aprillia, Salima Istiqamah, Zahnia Aulia Alkey, Dhea Kalista, Tiara Celcia

Email: juliyantireichellagultom@gmail.com, dkk.
(Mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat, FKM UNSRI)
 
 
Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Republik Indonesia sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sampah adalah sesuatu atau bahan yang sudah tidak digunakan lagi oleh manusia dan akhirnya dibuang begitu saja. Faktanya Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang sampah terbanyak di dunia. Diambil dari data goodstatistic terdapat 17,4 juta ton sampah yang dihasilkan di tahun 2023. Dari segi kesehatan, penggunaan berbagai produk plastik dapat menimbulkan penyakit berbahaya seperti kanker, gangguan kehamilan, dan kerusakan jaringan tubuh lainnya. Sampah plastik sangat sulit dibuang dan terurai di bawah tanah bagi lingkungan. Hal ini pada akhirnya dapat merusak tanah dan mencemari tanah dan sumber air tanah.
 
Permasalahan yang berdampak pada kesehatan warga permukiman seringkali disebabkan oleh buruknya kebersihan warga dan lingkungannya. Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan kualitas lingkungan antara lain disebabkan oleh rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap lingkungan hidup dan rendahnya kepekaan masyarakat dalam menyerap informasi yang bermanfaat bagi mereka. Selain itu, sulitnya mengubah pola hidup membuang sampah sembarangan, serta lalai dalam memperhatikan lingkungan sehingga mengakibatkan lingkungan menjadi kotor.
 
Mural merupakan salah satu jenis seni grafis yang menggunakan dinding sebagai medianya. Kata “mural” berasal dari kata latin “murus” yang berarti dinding. Dalam terminologi modern, mural mengacu pada lukisan besar yang dipasang di dinding (dalam atau luar ruangan), langit-langit, atau area datar lainnya. Menurut Susanto (2002:76), mural adalah lukisan berukuran besar yang dibuat untuk menunjang suatu ruang arsitektural. Menafsirkan lebih lanjut pengertian tersebut, mural sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari sebuah bangunan, dalam hal ini dinding. Dinding dianggap tidak hanya sebagai partisi ruangan atau sekedar elemen yang wajib ada pada sebuah rumah atau bangunan, namun juga sebagai sarana mempercantik sebuah ruangan.
 
Jika saya seorang peneliti epidemiologi: Berdasarkan beberapa permasalahan diatas disertai beberapa fungsi dari mural, penulis tertarik untuk melakukan penelitian terkait keefektifan mural untuk edukasi kebersihan lingkungan di Kampung Sayur dan Kampung Literasi , Palembang. Penelitian ini menggunakan studi analitik metode cross sectional (potong lintang) untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kebersihan lingkungan melalui edukasi melalui seni mural. Lokasi penelitian ini menggunakan 2 tempat sebagi bentuk perbandingan yaitu pada kampung Sayur dan kampung literasi. Hal ini bertujuan membandingkan tingkat keefektifan edukasi melalui mural pada dua lokasi dengan waktu yang bersamaan.
 
Penelitian ini menggunakan sampel seluruh masyarakat di lokasi yang akan diteliti. Namun ada beberapa kelemahan dalam melakukan penelitian ini, diantaranya berupa kurangnya tempat untuk dijadikan seni mural, membutuhkan waktu yang lama karena pembuatan mural tidak dapat dilakukan dalam waktu satu hari, membutuhkan banyak orang, dan pesan yang disampaikan belum tentu dipahami dengan jelas meskipun telah dibaca. Kelebihan dalam penelitian ini adalah mural mudah untuk menarik perhatian banyak orang sehingga tidak membutuhkan banyak waktu untuk mengumpulkan orang dalam memberi edukasi, serta dapat memperindah lingkungan sekitar.
 
Kelebihan dalam menggunakan studi desain cross sectional adalah efisien dan murah dalam penelitian, dapat mengidentifikasi factor dengan mudah, dan dapat membandingkan hasil penelitian, namun studi desain cross sectional memiliki beberapa kelemahan, yaitu tidak dapat menyimpulkan kausalitas, ketergantungan pada tindakan laporan mandiri, dan tidak dapat menetapkan penyebab.
 
Observasi Mural di Kampung Sayur 26 Ilir

Foto 1: Tempat sampah organik dan non organik
 
Gambar 1:  Jenis Tempat Sampah di Kampung Sayur Cempako, 26 Ilir (Dokumentasi tim Penulis)
 
Pada Kampung Sayur Cempako 26 Ilir Palembang, mereka sudah memiliki tempat sampah untuk jenis sampah yang berbeda, yaitu untuk sampah organik dan sampah anorganik, seperti yang terlihat pada gambar. Dengan hal ini, Kampung Sayur sudah melakukan langkah baik dalam hal pengedukasian pemilahan sampah untuk menjaga lingkungan serta mengembangkan kepedulian masyarakat akan sampah yang menjadi tanggung jawab bersama. Selain dari pada penyediaan tempat sampah berdasarkan jenisnya, mengedukasi masyarakat mengenai pemilahan sampah dapat juga melalui media mural pada dinding. Mural pada dinding ini memiliki daya tarik tersendiri, dengan media ini sangat mudah untuk menarik perhatian orang-orang terkhusus anak-anak untuk melihatnya, selain karena gambar yang ditampilkan menarik, ukuran gambar yang besar juga membuat kita puas untuk memandangnya.
 
Foto 2: Mural Alfabet Kampung Sayur
 
Gambar 2: Mural Alfabet Kampung Sayur 26 Ilir (Dokumentasi Tim Penulis)
 
Mural ini juga menambah keindahan pada Kampung Sayur. Sehingga, penggunaan media mural pada dinding dalam memberikan edukasi terkait pemilihan sampah menjadi salah satu yang efektif karena dapat terlihat secara jelas oleh siapa saja, menarik perhatian anak-anak yang membuat anak-anak ingat untuk membuang sampah pada tempatnya dan sesuai dengan jenisnya. Di kampung 26 Ilir mural yang banyak mural yang telah dibuat, contohnya mural alfabet yang membantu mengedukasi anak-anak untuk mengenal huruf. Secara tidak langsung anak-anak tertarik untuk melihat sekaligus membaca huruf yang telah di gambarkan.
 
Foto 3: Daur ulang sampah botol
 
Gambar 3: Pemanfaatan Botol Plastik Kampung Sayur 26 Ilir (Dokumentasi Tim Penulis)
 
Hasil dari pemilahan sampah tersebut dapat di daur ulang dan dimanfaatkan kembali, dan itulah yang dilakukan oleh masyarakat di Kampung sayur. Seperti yang terlihat pada gambar, mereka mendaur ulang kembali sampah yang masih layak menjadi sesuatu yang bermanfaat, seperti botol, pipa, dan ban bekas yang diubah menjadi pot untuk tanaman toga, yang mana tanaman toga ini sangat bermanfaat untuk kesehatan. Botol-botol bekas juga digunakan sebagai hiasan yang memperindah lingkungan Kampung Sayur. Masyarakat Kampung Sayur mengolah sampah dengan efektif dan estetik. Oleh karena itu, terlihat jelas bahwa edukasi pemilahan sampah sangat penting terkhusus untuk anak-anak sebagai penerus, yang mana mereka memiliki tanggung jawab untuk tetap terus menjaga lingkungan Kampung Sayur yang sudah terawat dan terus mengusahakan yang lebih baik untuk kampung ini serta terus berinovasi menciptakan hal-hal yang bermanfaat dengan penggunaan sampah. Pemilahan sampah yang baik akan menghasilkan sesuatu hal yang baik bagi lingkungan dengan berbagai cara.
 
Observasi Mural di Kampung Literasi 26 Ilir

Foto 1: Bank sampah kampung literasi
 
Gambar 1: Bank Sampah Kampung Literasi 26 Ilir (Dokumentasi Tim Penulis)
 
Di kampung 26 Ilir telah memiliki beberapa tempat pembuangan sampah, seperti dibuatnya bank sampah. Hal ini membantu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Tentunya sedikit demi sedikit kebersihan lingkungan mulai terjaga. Bank sampah ini akan secara rutin di tampung oleh pihak yang berwajib untuk disalurkan ke tempat pembuangan sampah akhir dengan kata-kata edukatif “dulu sampah, sekarang berkah”.
 
Foto 2: Mural bunga dikampung 26 ilir
 
Gambar 2: Mural Bunga Kampung 26 Ilir (Dokumentasi Tim Penulis)
 
Edukasi terkait dengan mural di Kampung 26 Ilir sudah dilakukan dengan baik, hanya saja mural digunakan hanya untuk menambah ke aesthetic-kan tempat. Di kampung 26 Ilir memiliki banyak dinding jalan yang belum digunakan dengan baik, contohnya untuk dijadikan mural. Di kampung 26 Ilir memiliki kendala berupa kurangnya peran masyarakat untuk mengaplikasikanya menjadi bahan edukasi. Meskipun mural memiliki beberapa kekurangan, mural juga menarik perhatian anak-anak untuk melihat gambar sehingga tanpa sadar membaca tulisan yang ada pada mural dan edukasi yang diberikan.
 
Lesson to learn: Dari beberapa observasi yang kami lakukan, terkait dengan seni mural yang menjadi salah satu media pemberian edukasi kesehatan, terbukti bahwasannya seni mural cukup efektif untuk digunakan sebagai media edukasi kesehatan. Hal ini dikarenakan seni mural memiliki daya tarik tersendiri, gambarnya yang dibuat dengan desain serta warna yang menarik dan ceria yang akan menarik perhatian orang-orang, lalu dipadukan dengan kalimat ataupun kata-kata yang sederhana namun informasinya tersampaikan. Sehingga minat membaca pun meningkat dan pengetahuan masyarakat akan kesehatan juga meningkat. Seni mural ini juga merupakan representasi agar setiap masyarakat dapat menjaga kesehatan dirinya dan lingkungan sekitarnya. Seni mural ini juga menjadi media yang dapat menginspirasi masyarakat dalam melakukan aksi kesehatan masyarakat dimulai dari akar.
 
Editor: Najmah, Erfiana Umar, Sukmawati
 
Sertifikat
Sertifikat kampung English
Piagam 3

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar

0 comments