oleh

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN MENINGKATNYA KEJADIAN PENYAKIT DBD DI RUMAH SUSUN (RUSUN) DI KOTA PALEMBANG: STUDI KASUS DI RUMAH SUSUN PALEMBANG

-Opini, dibaca 261 x

Series: Lesson to Learn From English Camps 2024

Oleh: 
Shaffa Narisa, Shandy Salsabilla, Fakhira Nursabrina, Clarysa Faratyka Afrilya Putri, Valinka Astiya Jannah, Marsya Zakiah, Savira Bonita Geona, Ellysa Armiati
(Mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM Unsri & Volunteers English Camps 2024)
 
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Sementara itu, pada kasus Demam Berdarah yang parah, kondisi ini bisa menyebabkan pendarahan serius, penurunan tekanan darah secara tiba-tiba (syok) hingga kematian. Demam Berdarah juga masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di daerah padat penduduk seperti Rumah Susun (Rusun).
 
Jutaan kasus infeksi demam berdarah dengue terjadi di seluruh dunia setiap tahunnya. Kasus Demam Berdarah paling sering terjadi di Asia Tenggara, Amerika Latin, Afrika, dan pulau-pulau di Pasifik Barat. Di Indonesia sendiri, demam berdarah memiliki jumlah kasus yang cenderung meningkat setiap tahunnya. 
 
Menurut Kemenkes RI, Saat ini Kasus Demam Berdarah telah tersebar di 472 kabupaten/kota di 34 Provinsi. Kematian Akibat Demam Berdarah terjadi di 219 kabupaten/kota. Berdasarkan data Dinkes Palembang, terdapat 908 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Palembang pada tahun 2022. Dari 908 kasus tersebut, terdapat 15 orang meninggal karena Demam Berdarah. Pada tahun 2024, pPer 7 Maret 20243, Dinas Kesehatan Kota Palembang melaporkan 371 kasus DBD dan 5 korban meninggal dunia.Menurut Kemenkes RI, Saat ini Kasus Demam Berdarah telah tersebar di 472 kabupaten/kota di 34 Provinsi.
 
Kematian akibat Demam Berdarah terjadi di 219 kabupaten/kota. Berdasarkan data Dinkes Palembang, terdapat 908 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Palembang pada tahun 2022. Dari 908 kasus tersebut, terdapat 15 orang meninggal karena Demam Berdarah. Per 7 Maret 2024, Dinas Kesehatan Kota Palembang melaporkan 371 kasus Demam Berdarah dan 5 korban meninggal dunia. Berdasarkan data mingguan Dinkes Palembang pada 10 Februari 2024, kasus Demam Berdarah telah menyerang 232 orang. Sebanyak empat orang dilaporkan meninggal dunia. Sebelumnya pada Januari 2024, jumlah kasus DBD tercatat 140 kasus.
 
Banyak faktor yang berkontribusi dalam peningkatan kasus Demam Berdarah di Kota Palembang. Salah satu faktor risiko peningkatan Demam Berdarah adalah sanitasi lingkungan yang tidak sehat, seperti genangan air bersih dan sampah-sampah yang dapat menampung air. Faktor risiko ini menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes Aegypti untuk berkembang biak. Selain itu, kondisi padat penduduk, air minum hewan peliharaan, dan gantungan baju dalam rumah menjadi faktor risiko penyerta lainnya.
 
Beberapa observasi tim mahasiswa FKM Unsri selama English Camps di rusun 24 dan 26 Ilir Kota Palembang terkait faktor resikorisiko sanitasi yang tidak sehat terhadap resikorisiko peningkatan kasus DBD di Kota Palembang.
 
FOTO 1 : Pakaian Tergantung
 
Gambar 1: Pakaian yang tergantung (sumber foto: http://wolipop.detik.com)
 
Kebiasaan dalam menggantungkan pakaian merupakan faktor yang dapat menyebabkan terjadinya DBD. Pakaian yang digantungkan di dalam ruangan terbuka adalah tempat yang biasanya digunakan nyamuk Aedes aegypti untuk bersarang. Nyamuk yang mendiami gantungan baju, setelahnya akan mulai mencari manusia untuk dihisap darahnya agar nantinya akan berguna dalam pembuahan telur- telurnya. Kebiasaan menggantung pakaian adalah suatu hal yang biasa dalam masyarakat dan sudah lama dilakukan dalam rumah, khususnya di dalam kamar. Biasanya baju akan digantungkan dalam ruang terbuka contohnya pada dinding dan pintu. 
 
FOTO 2 : Genangan Air di Ban
 
Gambar 2: Sampah yang dapat menampung air (sumber: www.rentokil.com)
 
Sampah padat seperti kaleng, botol ataupun minuman gelas yang dibuang sembarangan akan beresiko terisi genangan air didalamnya dan dapat dijadikan nyamuk sebagai tempat berkembang biak. Sehingga jika dapat mengelola sampah dengan baik akan lebih mudah meminimalisir perkembang biakan nyamuk Aedes Aegyepti. Keberadaan jentik nyamuk dari barang bekas juga banyak ditemui pada ban bekas yang dibiarkan di halaman luar rumah, padahal ban bekas dapat menampung air yang memberikan kesempatan untuk air tergenang sehingga nyamuk Aedes aegypti akan mendapatkan kesempatan untuk berkembang biak.
 
FOTO 3 : Air Pada Tempat Minum Hewan
 
Gambar 3: Air pada minuman hewan menjadi tempat nyamuk berkembang biak (sumber: https://m.facebook.com)

Nyamuk aedes aegypti lebih senang berada di air bersih yang dibiarkan tergenang dibandingkan bersarang ditempat yang kotor atau tidak terawat. Letak genangan air bersih itu ada di mana-mana, tidak hanya di luar rumah, tetapi di dalam rumah pun banyak. Terutama pada barang-barang pribadi seperti tempat penampungan air dispenser, bak mandi atau bak penampungan air, pot/vas bunga, dan tempat minum burung. Tempat genangan air tersebut menjadi sumber jentik nyamuk berkembang biak hingga menjadi nyamuk dewasa.
 
FOTO 4 : Lingkungan Padat Penduduk 
 
Gambar 4: Lingkungan dengan padat penduduk (sumber: pemilu.kompas.com)
 
Daya terbang nyamuk Aedes aegypti yang mencapai 200 meter, dikombinasikan dengan kepadatan penduduk di rusun, menciptakan situasi yang ideal untuk penyebaran virus Dengue. Virus ini dapat dengan mudah menular antar penghuni rusun melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi.
    
Jika saya seorang Peneliti Epidemiologi: Jika saya seorang peneliti, maka untuk mengatasi permasalahan pada  sampah-sampah yang terisi genangan air di  daerah sekitar tempat tinggal masyarakat, saya akan dengan melakukan penelitian mengenai pengetahuan dan, sikap masyarakat dalam kebiasaan pembuangan sampah, Efektifitas sistem pengelolaan sampah yang ada dan perilaku pencegahan Demam BerdarahBD di rusun 24 dan 26 Iilir kota Palembang. Sehingga dari hasil penelitian ini, peneliti dapat mengetahui hubungan variabel pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat dengan banyaknya sampah-sampah yang terisi genangan air disekitar tempat tinggal masyarakat karena hal tersebut dapat meningkatkan kasus Demam Berdarah di rusun 24 dan 26 Ilir Kota Palembang.: Pendekatan studi yang digunakan : case controlpotong lintang. Tim peneliti akan mencari tahu penyebab utama dari suatu daerah mengenai daerah yang sudah memiliki lingkungan bersih tanpa sampah-sampah genangan air. Ttim peneliti akan menanyakan pertanyaaan berkaitan faktor penyebab kondisi keadaan lingkungan bersih suatu daerah dan faktor penyebab kondisi rusun memiliki banyak sampah dengan air tergenang dan perilaku pencegahan DBD.
 
Peneliti juga akan menanyakan pada responden mengenai pengetahuan, sikap dan praktik mereka terkait pencegahan DBD pada faktor sanitasi, seperti pembuangan sampah dan observasi genangan air, agar peneliti dapat mengetahui faktor utama keadaan lingkungan responden. Variabel dependen adalah jumlah sampah-sampah yang terisi genangan air. Sedangkan, variabel independen yaitu kesadaran masyarakat serta sikap dan perilaku masyarakat dalam kebiasaan pembuangan sampah. Dan juga jumlah penduduk yang terlalu padat. 
 
Adapun alasan kami memilih studi design cross sectional, dikarenakan beberapa kelebihannya, seperti: Studi design cross sectional, mempunyai cakupan yang luas sehingga mampu untuk mengkaji permasalahan di area yang luas dengan sampel yang besar. Serta, dapat  mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap genangan air dan sampah di berbagai wilayah, dengan waktu cepat dan biaya murah dan SDM yang relatif tidak banyak.
 
1. Dengan menggunakan studi design cross sectional dapat dilakukan dengan cepat dan memberikan gambaran awal tentang masalah genangan air dan sampah.
 
2. Kemudian, kami memilih studi design cross sectional adalah karena biaya penelitian relatif lebih murah dibandingkan dengan desain penelitian longitudinal.
 
3. Dengan studi design cross sectional, membuat kami membutuhkan sumber daya manusia dan peralatan yang lebih sedikit.
 
4. Studi design cross sectional, mempunyai cakupan yang luas sehingga mampu untuk mengkaji permasalahan di area yang luas dengan sampel yang besar. Serta, dapat  mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap genangan air dan sampah di berbagai wilayah.
 
5. Selanjutnya studi design ini, mudah dipahami dan diimplementasikan dan juga pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti survei, observasi, dan wawancara.
 
Variabel dependen dari penelitian ini adalah jumlah tumpukan sampah yang terisi genangan air. Sedangkan, variabel independen dari penelitian ini yaitu kesadaran, sikap dan perilaku masyarakat dalam kebiasaan pembuangan sampah, serta jumlah penduduk yang terlalu padat. Adapun alasan kami memilih studi design potong lintang, dikarenakan studi potong lintang mempunyai cakupan yang luas sehingga mampu untuk mengkaji permasalahan di area yang luas dengan sampel yang besar. Studi design potong lintang juga dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap genangan air dan sampah di berbagai wilayah dengan waktu yang cepat dan biaya murah serta SDM yang relatif tidak banyak. Selain itu, pengumpulan data dalam studi design potong lintang dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti survei, observasi dan wawancara.
 
Meskipun memiliki beberapa kelebihan, studi potong lintang memiliki kekurangan seperti:
 
1. Studi potong lintang hanya menunjukkan hubungan statistik pengetahuan,, sikap masyarakat dalam kebiasaan pembuangan sampah, Efektifitas sistem pengelolaan sampah yang ada dan perilaku pencegahan Demam Berdarah dengan banyaknya sampah-sampah di lingkungan sekitar. Studi dapat menghubungkan bahwa penghuni Rumah Susun dengan pengetahuan yang rendah memiliki risiko lebih tinggi membuang sampah sembarangan. Akan tetapi, studi tidak dapat membuktikan bahwa pengetahuan yang rendah menyebabkan penghuni membuang sampah sembarangan.
 
2. Pengukuran perilaku seringkali berdasarkan laporan responden, yang dapat tidak akurat karena faktor-faktor seperti keinginan untuk terlihat baik.
Studi design cross sectional juga terdapat kekurangan, seperti: 
 
1. Waktu yang tidak efektif, karena tidak dapat menunjukkan hubungan kausal pengetahuan, sikap masyarakat dalam kebiasaan pembuangan sampah 
antara genangan air dan sampah.
 
2. Hasil penelitian tidak selalu bisa digeneralisasikan ke seluruh populasi.
 
3. Bias Data, karena Kemungkinan bias dalam pengumpulan data, seperti self-reporting bias dan selection bias.
Jadi, Studi desain cross-sectional memiliki kelebihan dan kekurangan, yaitu dapat memberikan gambaran awal yang cepat dan efisien, namun memiliki keterbatasan dalam menunjukkan hubungan kausal dan temporal.
 
Upaya Penanganan DBD di kota Palembang
 
Untuk mengantisipasi lonjakan DBD, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang menyiapkan pelayanan fogging gratis untuk semua masyarakat tanpa batas.  Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang juga menyiapkan pelayanan fogging yang bekerja sama dengan setiap Kelurahan dan Kecamatan Kota Palembang. Bagi masyarakat yang membutuhkan fogging tinggal melapor ke lurah atau camat untuk mendapatkan foggingbagi seluruh warga. Setiap kKecamatan Gandus di Kota Palembang sendiri sudah gencar lakukan penyemprotan fogging ke warga untuk perangi DBD. "Pemkot Palembang menyiapkan fogging gratis untuk semua masyarakat tanpa batas, masyarakat yang butuh fogging tinggal melapor ke kelurahan atau camat untuk mendapatkan fogging gratis atau bisa hubungi ke nomor 0838-2307-0254 petugas fogging akan datang," kata Camat Gandus Palembang Jufriansyah, Rabu (6/3/2024).
 
Kata Jufriansyah, fogging gratis ini dari Penjabat Wali Kota Palembang Ratu Dewa. Fogging ini, lanjutnya, tidak hanya di Kecamatan Gandus, namun setiap kecamatan di Palembang ada fogging gratis untuk mengantisipasi lonjakan DBD di Kota Palembang saat musim pancaroba sekarang.
 
Dinas Kesehatan Kota Palembang terus menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat untuk mewaspadai dan mencegah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Sosialisasi bertujuan memberikan informasi cara pencegahan DBD agar korban tidak terus bertambah. Antara lain dengan menerapkan 3 M Plus yaitu menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air dan mengubur atau memusnahkan benda-benda bekas yang dapat menampung air hujan. Selain 3M, ada juga langkah tambahan (Plus) seperti menanam tanaman yang dapat menangkal nyamuk, menggunakan obat anti nyamuk, melakukan gotong royong untuk membersihkan lingkungan secara bersama dan memberikan larvasida pada penampungan air yang susah untuk dikuras
 
Lesson to Learn: Upaya kolektif dan berkelanjutan sangatlah dibutuhkan untuk mengatasi problematika DBD di Rusun. Pemerintah perlu meningkatkan upaya seperti fogging, pembersihan lingkungan, dan edukasi tentang pencegahan DBD ke seluruh daerah di Palembang, termasuk rusun. Namun, upaya pemberantasan DBD di Rusun tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif dari warganya. Warga dapat berkontribusi dengan menyumbang dana kepada kelurahan untuk pelaksanaan fogging. Selain itu, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) secara konsisten oleh seluruh warga Rusun menjadi kunci utama dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti.
 
Editor: Najmah, Erfiana Umar, Ria Revianti
 
Sertifikat
Sertifikat kampung English
Piagam 3

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar

0 comments