oleh

Opini Masyarakat Terkait Vaksin Covid-19

-Opini, dibaca 216 x

Oleh: Alga Silvia Ulan Dari, Hanni Sandra Pratiwi dan Sylpi Kharisma Afrisae

Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UNSRI (Peminatan Epidemiologi) 
 
Email: Sylpikharisma2@gmail.com
 
 
Latar Belakang 
 
Seperti negara-negara lain di seluruh dunia, wabah Covid-19 yang diumumkan pertama kali pada bulan Maret 2020 menjadi berkepanjangan dan berdampak signifikan pada sektor kesehatan dan perekonomian di Indonesia. Indonesia telah berupaya secara maksimal mengatasi tantangan-tantangan yang ada. Pada tanggal 6 Oktober 2020, presiden menandatangani dan mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 99 Tahun 2021. 
 
Tentang pengadaan vaksin dan pelaksanaan program vaksinasi untuk menanggulangi pandemi Covid-19. Perpres tersebut menetapkan bahwa pemerintah akan mempersiapkan pengadaan dan distribusi vaksin serta pelaksanaan vaksinasi. Perpres tersebut menetapkan PT. Bio Farma, perusahaan farmasi milik negara, untuk menyediakan vaksin melalui kerja sama dengan berbagai institusi internasional. Perpres ini juga menetapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mengatur jalannya distribusi vaksin dan program vaksinasi nasional.
 
Sejak pemerintah mengumumkan vaksinasi Covid-19 di Indonesia, masyarakat telah dihadapkan dengan berbagai dilema pemberlakuan kebijakan ini. Melihat aktivitas masyarakat di media sosial, masih ditemukan seruan kelompok yang menolak vaksin Covid-19. Bahkan, terdapat 49,9 % dari total 601 responden menolak untuk menjadi penerima vaksin Covid-19 pertama berdasarkan  kajian dan riset yang dilakukan Center for Digital Society (CfDS) Fisipol UGM yang diinisiasi oleh Amelinda Pandu Kusumaningtyas, Iradat Wirid dan beberapa peneliti senior CfDS. Dampak tersebut terjadi karena banyak faktor seperti pendidikan, lingkungan, media sosial dan berita hoax.
 
Perjalanan Vaksin Di Indonesia
 
Vaksin awal masuk tahun 2020, pengembangan vaksin telah dipercepat melalui kolaborasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu dalam industri farmasi multinasional dan antar pemerintah.
 
Vaksin di Indonesia (12 Oktober 2020)

Pemerintah Indonesia sedang melakukan finalisasi pembelian vaksin Covid-19 dari tiga perusahaan. Ada tiga kandidat vaksin yang akan dipakai di Indonesia, antara lain vaksin Sinovac, vaksin Sinopharm, dan vaksin Cansino.
 
Menurut Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dr. Achmad Yurianto, Kementerian Kesehatan bersama dengan seluruh perlengkapan perangkapnya, termasuk di antaranya Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia, BPOM, Kementerian Agama, Bio Farma bertemu dengan beberapa produsen pasien yang sudah menyelesaikan Uji klinis fase 3.
 
Hal itu tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 9860 Tahun 2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin Untuk Pelaksanaan Vaksinasi Corona Virus Disease 2019 ( Covid-19). 
 
Vaksin Sinovac Di Indonesia pertama kali pada tanggal 6 Desember 2020
 
Sebanyak 1,2 juta dosis vaksin Sinovac waktu itu diuji klinis oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Menurut Laporan Medcom, 11 Januari 2021, vaksin Covid-19 produksi Sinovac, Tiongkok, yang melewati uji klinis di Indonesia mendapat angka efikasi atau kemampuan mencegah penyakit 65,3%. Berbeda dengan nilai efikasi vaksin yang sama di Turki 91,25% dan di Brazil 78% (baru-baru ini diperbarui menjadi 50,4%).
 
Berdasarkan informasi dari produsen, vaksin CoronaVac terbukti 51% efektif melawan infeksi simtomatik. Vaksin ini juga terbukti 100% efektif terhadap Covid-19 berat, dan 100% terhadap kebutuhan rawat inap setelah 14 hari sejak dosis kedua diterima.  Vaksin Covid-19 yang banyak digunakan dan setidaknya memiliki efektivitas 50% yang akan membantu mengendalikan pandemi.
 
Hasil tersebut sudah sesuai dengan persyaratan Organisasi Kesehatan Dunia / World Health Organization (WHO), yakni minimal efikasi vaksin 50%. Angka itu menunjukkan harapan vaksin mampu untuk menurunkan timbulnya penyakit Covid-19 hingga 65,3 %. Akhirnya, pemerintah menerima vaksin Sinovac tahap pertama sebanyak 1,2 juta dosis, tepatnya pada 6 Desember 2020.
 
Perbandingan Uji Coba Vaksin Sampai Vaksin Lulus Uji Klinis.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Jumat (16/10/2020) telah melakukan inspeksi pelaksanaan uji klinis vaksin Sinovac di Puskesmas Garuda dan Puskesmas Dago, Bandung. Sebelumnya, inspeksi juga telah dilakukan di seluruh center uji pada 8-9 September. "Hasil inspeksi menunjukkan tidak ada temuan yang bersifat kritikal," kata Kepala BPOM Penny Lukito, dalam rilisnya, Sabtu (17/10/2020).
 
Saat ini, uji klinis vaksin Sinovac telah memasuki tahap rekrutmen subjek terakhir di Indonesia. Selanjutnya, akan dilakukan pengamatan efikasi atau khasiat serta keamanan vaksin.  "Sejauh ini tidak ditemukan adanya reaksi yang berlebihan atau Serious Adverse Event, hanya reaksi ringan seperti umumnya pemberian imunisasi," kata Penny. Vaksin Covid-19 asal China, Sinovac akhirnya mendapat izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA). 
 
Uji klinis tahap III, pada awal Agustus 2020, dilakukan uji klinis tahap III terhadap kandidat vaksin Sinovac. Proses uji klinis dilakukan di Bandung, Jawa Barat. Tim uji klinis vaksin berasal dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Tercatat, ada 1.600 relawan yang disuntik vaksin ini.  Dengan terbitnya izin penggunaan darurat atau EUA, BPOM memastikan bahwa vaksin Sinovac aman dan berkhasiat. Hal ini diketahui setelah beberapa waktu lalu, BPOM melakukan analisis terhadap hasil uji klinis tahap III Sinovac yang dilakukan di Bandung, Jawa Barat.
 
Daftar Vaksin Covid-19 yang Sudah Melalui Uji Klinis Tahap Lanjut

Vaksin Janssen atau Johnson & Johnson dari Belgia
 
Perusahaan Janssen Pharmaceuticals sedang melakukan uji klinis fase tiga dengan sampel 90.000 orang di AS, Argentina, Brazil, Kolombia dan Belgia. Vaksinnya berbasis vektor virus non-replicating, yang tidak bisa berkembang biak dalam tubuh manusia.
 
Vaksin AstraZeneca –University of Oxford di Inggris
 
Uji klinis kandidat vaksin AstraZeneca dilakukan pada sekitar 60.000 orang di AS, Chile, Peru dan Inggris. Vaksinnya dibuat dari versi lemah virus flu biasa dari simpanse, yang telah dimodifikasi agar tidak berkembang biak dalam tubuh manusia.
 
Vaksin Sinopharm dari China

Perusahaan farmasi dari China, Sinopharm bekerja sama dengan Beijing Institute dan Wuhan Institute juga sudah memasuki fase tiga uji klinis kandidat vaksinnya pada sekitar 55.000 responden di Bahrain, Yordania, Mesin, Maroko, Argentina, dan Peru. Sinopharm menggunakan virus yang inaktif sebagai bahan dasar pembuatan vaksinnya.
 
Vaksin BioNTech dari Jerman

Perusahaan Jerman BioNTech melakukan uji klinis pada 44.000 orang responden di AS, Argentina dan Brasil. Vaksinnya berbasis teknologi paling canggih, yaitu messenger RNA atau mRNA.
 
Vaksin CanSino dari China

Perusahaan China lainnya, CanSino melakukan uji coba kandidat vaksinnya pada sekitar 41.000 orang di Pakistan 
 
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Berbagai Opini Di Masyarakat
 
Faktor Pendidikan/Pengetahuan 
 
Dari survei CfDS (Center for Digital Socianty) yang dilakukan di bulan Februari 2021, berdasarkan tingkat pendidikan dan persepsi terhadap vaksin Covid-19 disebutkan mayoritas masyarakat Indonesia yang berpendidikan tinggi (diploma-S3) menganggap vaksin Covid-19 penting, baik untuk diri sendiri maupun keluarga. Meski begitu masih terdapat hampir 40 persen masyarakat tidak setuju dengan kebijakan wajib vaksin Covid-19 yang mayoritas merupakan masyarakat berpendidikan tinggi, dan ini secara langsung berdampak pada persepsi negatif masyarakat, yang menyurutkan kesediaan untuk menerima vaksin. 
 
Faktor Media Sosial

Selanjutnya faktor media sosial, salah satu pengaruh besar terhadap munculnya berbagai macam opini masyarakat. Karena, berdasarkan hasil penelitian CfDS (Center for Digital Socianty) memperlihatkan sebagian besar masyarakat Indonesia pengguna layanan digital mengakses informasi Covid-19 melalui link media sosial, belum lagi masih ada banyak masyarakat Indonesia juga masih percaya dengan paparan informasi hoax, dan informasi media sosial sangat berpengaruh terhadap opini masyarakat Indonesia. 
 
Terlepas dari latar belakang yang dimiliki, masih saja terdapat masyarakat yang terpapar pusaran berita palsu ataupun teori konspirasi yang beredar di media sosial. Terutama pada masyarakat dipedesaan atau perkampungan yang mudah percaya akan berita yang beredar, tetapi mereka tidak mengetahui kebenarannya yang ada. 
 
Sosial Budaya dan Agama 

Masyarakat bertanya-tanya mengenai hukum mengkonsumsi vaksin dalam agama mengingat bahan-bahan yang digunakan dalam vaksin tersebut. Bahkan dalam beberapa kelompok Kristen di negara Barat, adanya penolakan vaksin berasal dari penolakan ide pengetahuan ilmiah di atas nilai agama, mengingat banyak berjalannya paham sekularisme yang mereka anggap semakin menyudutkan posisi agama dalam masyarakat. Dan kelompok Muslim juga melakukan penolakan tersebut dikarenakan adanya keraguan sifat kehalalan vaksin tersebut. Beberapa vaksin tersebut ditandai mengandung enzim babi yang secara otomatis membuatnya bersifat haram. 
 
Meski begitu, majelis ulama indonesia (MUI) kemudian mengeluarkan fatwa bahwa vaksin tersebut boleh dipergunakan dengan mengingat kemaslahatan umum yang lebih besar agar tidak menimbulkan wabah penyakit yang membahayakan kesehatan umum (Aminondi, 2018). 
 
Tidak hanya dari segi agama, uji kelayakan vaksin yang akan digunakan juga menjadi salah satu topik pembicaraan yang sering dibahas oleh masyarakat. Masyarakat sangat mengkhawatirkan perihal status layak pakai dan efek samping yang akan dihasilkan dari vaksin yang diberikan mengingat rencana kegiatan vaksinasi yang tampak seperti tergesa-gesa. 
 
Lingkungan Masyarakat

Lingkungan sangat mempengaruhi kebiasaan dan pola pikir masyarakat yang dapat memberikan dampak positif dan negatif kepada masyarakat di sekitarnya. Sejak kehadiran virus jenis baru ini yang belum ditemukan obatnya membuat masyarakat cemas, ketakutan, dan bahkan depresi. Banyak masyarakat yang saling mempengaruhi agar tidak melakukan vaksin karena banyaknya berita-berita tidak benar tentang vaksin yang beredar. 
 
Analisa Fenomena Masyarakat yang Tidak mau divaksin sampai sekarang Antri mau divaksin
 
Dari pengalaman penulis mengapa banyak masyarakat yang antri mau di vaksin. Dari yang penulis lihat masyarakat banyak antri untuk divaksin itu hanya awal-awal saat pertama kali vaksin ada dan sekarang masyarakat sudah tidak lagi antri bahkan rumah sakit tempat penulis vaksin waktu itu membuka jadwal vaksinasi setiap hari karena jarangnya orang yang mau di vaksin. 
 
Berdasarkan (Sumber Detikcom) "Sebagian besar masyarakat yang tidak mau vaksin karena disebabkan oleh berbagai macam opini baik yang disebarkan melalui media sosial atau pun pengaruh lingkungan sekitar. 
Beberapa alasan masyarakat tidak mau melakukan Vaksinasi. 
 
Tidak yakin keamanannya (30%)
Tidak yakin efektif (22%)
Takut efek samping (12%)
Tidak percaya vaksin (13%)
Keyakinan agama (8%)
Lain-lain (15%).
 
Untuk memastikan aspek keamanan dan kehalalan vaksin yang menjadi alasan penolakan, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi mengatakan pemerintah telah menerjunkan tim gabungan ke negara produsen untuk memastikan aspek tersebut. "Sangat penting bagi kami untuk terus memastikan bahwa vaksin tersebut aman. Kami juga melibatkan petugas kesehatan dan membangun kapasitas mereka, karena petugas kesehatan adalah sumber informasi paling terpercaya di masyarakat," kata Oscar. 
 
Berdasarkan Hasil survei Katadata Insight Center (KIC) sebanyak 54% masyarakat Indonesia bersedia mengikuti program vaksinasi Covid-19. Alasan utama mereka bersedia divaksin adalah untuk melindungi diri sendiri. Ada 69,8% responden yang menyatakan pendapat tersebut. Sebanyak 55,3% responden bersedia divaksin untuk melindungi keluarga dan orang sekitar.
 
Sebanyak 35,7% responden bersedia mengikuti vaksin karena sudah lulus uji Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Kemudian, 32,3% responden mau divaksin karena sudah ada sertifikasi halal. Responden yang mau divaksin karena alasan kewajiban moral dan pekerjaannya mengharuskan sering bepergian masing-masing sebesar 31,4%. 
 
Dalam penelitian yang terkait analisis teks media sosial, sebaran hoax dan konspirasi terkait Covid-19, CfDS juga melakukan analisis yang mendalam dengan memanfaatkan data dari cuitan dan postingan netizen di berbagai platform sosial media. Iradat Wirid menyebut dari pengambilan data sejak Maret 2020-Februari 2021 terdapat lebih dari 18.400 cuitan di Twitter yang memuat “Tolak Vaksin” atau “Anti Vaksin”.
 
Bersamaan dengan postingan masyarakat tersebut, katanya, lebih dari 1.000 cuitan merujuk pada bantahan terhadap penolakan vaksin Covid-19 Sinovac. Sementara lebih dari 4.000 cuitan mengandung kata ‘PDIP’, ‘rakyat’, ‘PKI’ dan ‘Pemerintah’ sebagai bentuk penolakan balik postingan Anggota DPR Ribka Tjiptaning yang tidak mendukung vaksin Covid-19.
 
“Sama halnya pada platform berbagi video Youtube, terdapat 11 video teratas yang membahas mengenai penolakan Ribka Tjiptaning, dengan penonton lebih dari 13 juta pengguna dan 62.000 komentar," ungkapnya.
 
Berbeda dengan Twitter, kata Iradat, pada kolom komentar Youtube di video tersebut lebih banyak memuat dukungan terhadap anggota DPR Ribka Tjiptaning untuk menolak vaksin Covid-19. Karena penolakan-penolakan yang beredar di media sosial membuat masyarakat terpengaruh dan tidak mau di vaksin. Padahal vaksin sudah di uji dan dinyatakan aman.
 
Editor: Nurmalia Ermi dan Karni
 
Sertifikat
Sertifikat kampung English
Piagam 3

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar

0 comments