oleh

Mengulik Penyebab Munculnya Stigma Negatif Terhadap Vaksinasi Covid-19

-Opini, dibaca 294 x

Oleh: Bella Huspita, Feby Intan Dwi Artika, dan Riska Nafi’ah

Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Unsri (Peminatan Epidemiologi)
Email: bellahuspita1@gmail.com
 
Sumber foto: CNBC Indonesia
 
Pada akhir Desember 2019 ditemukan sebuah virus SARS-CoV-2 atau yang biasa dikenal dengan Covid-19 yang muncul diwilayah Wuhan-Tiongkok. Kemudian, pada awal maret 2020 Presiden Joko Widodo mengumumkan secara langsung bahwa di Indonesia terdapat 2 WNI yang positif Covid-19. Penyebaran Covid-19 di Indonesia terus meningkat, tercatat pada tanggal 5 Oktober 2021 jumlah kasus terkonfirmasi positif  Covid-19 menjadi 4.221.610 dengan 4.049.449 sembuh dan 142.338 meninggal.
 
Mengenal Vaksinasi Covid-19
 
Meskipun sudah lebih dari satu tahun sejak kasus pertama didiagnosis, Covid-19 tetap menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat secara global. Sebagai upaya dalam pemberantasan penyebaran virus Covid-19 pemerintah Indonesia mengadakan vaksinasi untuk masyarakat. Vaksinasi adalah proses pemberian vaksin (antigen) ke dalam tubuh yang dapat menghasilkan pembentukan kekebalan sistem imun di dalam tubuh manusia. 
 
Vaksinasi berfungsi sebagai perlindungan agar tidak tertular atau sakit berat akibat Covid-19 dengan cara menimbulkan atau menstimulasi kekebalan spesifik dalam tubuh dengan pemberian vaksin. Vaksinasi Covid-19 dengan dosis lengkap dan sesuai jadwal yang disarankan oleh tenaga kesehatan serta penerapan perilaku 5M yakni Memakai masker, Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan dan Mengurangi mobilitas merupakan upaya perlindungan yang bisa kita lakukan agar terhindar dari Covid-19.
 
Dalam sebuah penelitian yang berjudul “A Comprehensive Analysis of the Efficacy and Safety of COVID-19 Vaccines” oleh Cai dkk mengungkapkan bahwa secara global kemanjuran vaksin tertinggi terdapat pada vaksin berbasis Mesengger RNA atau yang dikenal mRNA (Moderna dan Pfizer-BioNTech) yakni sebesar 94,29% karena imunogenisitasnya yang kuat dan presentasi antigen SARS-CoV-2 yang efektif  dengan sistem kekebalan tubuh. Sedangkan kemanjuran vaksin terendah terdapat pada vaksin inaktif (Sinopharm, CoronaVac, Covaxin, Sinopharm, dan CoviVac), meskipun efektivitasnya lebih dari 70%. Meski demikian, vaksinasi merupakan upaya yang paling menjanjikan untuk mengendalikan Covid-19.
 
Berdasarkan dari laporan harian Kementrian Kesehatan RI per tanggal 5 Oktober 2021 pukul 18.00 total sasaran vaksinasi mencapai 208.265.720. Dengan pemberian vaksin sebesar 1.469.764 kepada SDM kesehatan, 17.327.167 kepada petugas publik, 21.553.118 pada lansia dan 141.211.181 pemberian vaksin kepada masyarakat umum. Saat ini, di Indonesia secara keseluruhan terdapat 9 jenis vaksin Covid-19 yang digunakan untuk melawan virus tersebut, antara lain Sinovac, Vaksin Covid-19 Bio Farma, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer, Sputnik V, Janssen dan Convidencia. 
 
Setiap jenis vaksin memiliki efek samping, tetapi efek samping vaksin Covid-19 tak semua orang mengalaminya. Setelah mendapatkan vaksinasi beberapa orang mengalami sakit mulai dari efek samping yang paling umum yakni nyeri, kelelahan dan sakit kepala yang bisa sembuh tanpa obat apapun. Akan tetapi, ada juga yang merasa baik-baik saja bahkan setelah di vaksin. Dalam penelitian “A Comprehensive Analysis of the Efficacy and Safety of COVID-19 Vaccines” oleh Cai dkk juga mengemukakan bahwa orang muda lebih rentan terkena efek samping yang dari vaksinasi.
 
Melansir dari laman Kontan.co.id (10/9) menurut Kepala BPOM Penny K. Lukito untuk keamanan vaksin, “Badan POM selalu berkolaborasi bersama para pakar dalam memastikan pemenuhan standar keamanan, khasiat, dan mutu vaksin. Kami melibatkan para pakar di bidang farmakologi, imunologi, klinisi, apoteker, epidemiologi, virologi, dan biomedik yang tergabung dalam tim Komite Nasional Penilai Khusus Vaksin Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), serta asosiasi klinisi terkait,”. Dengan demikian, tidak perlu diragukan lagi terkait keamanan seluruh vaksin Covid-19 karena telah melalui pengkajian yang intensif terhadap keamanan, khasiat dan juga mutunya.
 
Tentang Stigma yang Beredar di Masyarakat
 
Menanggapi hal tersebut masih banyak masyarakat yang enggan untuk divaksin karna berbagai stigma negatif yang menghantui pikiran mereka. Adapun definisi Stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya (KBBI, 2014).
 
Stigma negatif tekait virus Covid-19 masih melekat erat di masyarakat. Stigma tersebut bisa muncul dari diri sendiri atau bahkan dari pandangan masyarakat dalam melihat sesuatu yang kebenarannya belum jelas. Sehingga menyebabkan banyak masyarakat sulit untuk menindaklanjuti keluhan atau kasus yang terjadi disekitar yang berdampak pada upaya pemutusan rantai penularan Covid-19.
 
Stigma juga dapat merusak hubungan sosial dan mendorong terjadinya kemungkinan isolasi sosial terhadap suatu kelompok, yang dapat memperburuk situasi, bukannya mencegah penyebaran virus. Hal ini dapat mengakibatkan masalah kesehatan menjadi lebih parah dan kesulitan dalam mengendalikan wabah penyakit. Maka, dengan terstigmanya seseorang mendorong mereka untuk menyembunyikan penyakitnya demi menghindari diskriminasi, mencegahnya untuk segera mencari perawatan kesehatan saat mendapati gejala dan mencegah mereka mengadopsi perilaku sehat karena perasaan takut dan was-was terhadap stigma dan diskriminasi tersebut (WHO, 2020).
 
Macam-macam Stigma Negatif terhadap Vaksinasi Covid-19
 
Berdasarkan pengalaman pribadi penulis, beberapa stigma negatif yang dapat kita temukan di masyarakat mengenai vaksinasi Covid-19 adalah sebagai berikut :
 
Vaksin merupakan kepentingan elite politik, ada pula pendapat yang mengatakan “Jangan mau divaksin nanti kita yang sehat bisa menjadi sakit”, kemudian, adanya konteks sosial, termasuk pengalaman dari media. 
 
Perasaan takut meninggal karena divaksin, Perasaan takut untuk periksa ke dokter padahal sudah muncul tanda-tanda covid karena takut mendapatkan diskriminasi sosial, Ketakutan disuntik dengan bahan yang berasal dari kuman penyebab penyakit, Perasaan curiga dan tidak percaya terhadap sistem pelayanan medis, Perasaan yang terintimidasi, Pengalaman efek samping masa lalu.
 
Faktor Determinan Sosial
 
Determinan Sosial atau Social Determinant adalah faktor-faktor penentu secara sosial di dalam masyarakat. Sejumlah variabel yang tergolong dalam faktor sosial, seperti; budaya, ekonomi, politik, pendidikan, faktor biologi dan perilaku yang mempengaruhi status kesehatan individu atau masyarakat merupakan prinsip dari determinan sosial.
 
Gambar 1: Determinan Sosial Penyebab Munculnya Stigma Negatif Terhadap Vaksinasi Covid-19 (Dikembangkan oleh Bella Huspita, Feby Intan Dwi Artika, dan Riska Nafi’ah, 2021)
 
Faktor Individu (Individual Factors) 
 
Adanya stigma negatif terhadap vaksin Covid-19, muncul pro dan kontra di masyarakat. Ada yang mendukung vaksin, dan ada juga yang meragukan keefektifan dan keampuhan vaksin Covid-19. Beberapa diantaranya bahkan menolak vaksin. Hal ini menjadi penyebab karena kurangnya tingkat pengetahuan serta pemahaman masyarakat terkait risiko dari vaksinasi. Situasi ini perlu dipahami dengan hati-hati, masyarakat mungkin mempunyai tingkat kepercayaan yang berbeda-beda. Status ekonomi mempengaruhi tingkat pengetahuan tentang informasi terhadap vaksin.
 
 Masyarakat takut untuk melakukan vaksinasi karena masih meragukan keamanan dan tidak yakin bahwa vaksinasi akan efektif. Sementara, sebagian kecil lainnya menyatakan tidak percaya vaksin, takut pada efek samping, alasan agama, dan alasan lainnya. Sehingga masyarakat takut untuk melakukan vaksinasi dan muncul stigma negatif di masyarakat. 
 
Faktor Keluarga (Interpersonal/Family Factors)
 
Pengaruh dari keluarga juga menjadi faktor penyebab terjadinya stigma negatif salah satu hal yang menjadi kendala masih rendahnya tingkat kepercayaan terhadap vaksinasi dan kurangnya dukungan dan pengaruh dari keluarga. Hal ini disebabkan karena adanya stigma negatif, sehingga orang yang ingin melakukan vaksinasi akan terpengaruh karena stigma negatif tersebut dan orang itu tidak jadi di vaksinasi.
 
Faktor Sosial Masyarakat (Sosial & Community Networks Factors)

Di tengah pandemi Covid-19 saat ini, muncul fenomena sosial yang berpotensi memperburuk keadaan, yaitu stigma negatif. Hal ini menjadi penyebab ketidakpercayaan terhadap vaksinasi di masyarakat karena mereka tidak mengetahui manfaat dan resiko dari vaksinasi itu sendiri. Meragukan keamanannya dan tidak yakin bahwa vaksinasi akan efektif. Hal tersebut dapat terjadi karena banyaknya informasi simpang siur dan penyebaran hoax terhadap vaksinasi sehingga menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap Vaksin Covid-19. 
 
Berdasarkan pernyataan yang disampaikan dalam rapat dengar pendapat antara komisi VI DPR RI dengan Holding BUMN Farmasi di gedung DPR RI, Jakarta pada selasa, 25 Mei 2021. Dalam agenda tersebut menjelaskan ada sejumlah informasi berita yang simpang siur yang mendominasi ranah informasi publik. Hal ini menjadi penyebab bahwa rakyat masih ragu untuk divaksin.
 
Faktor Sosial, Ekonomi, Budaya, dan Kondisi Lingkungan (Sosio Economic, Cultural & Environment Factors)
 
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 Tahun 2021 jelas bertentangan dengan hak masyarakat atas kesehatan di era pandemi. Masyarakat sudah mengalami beban ekonomi dan sosial yang berat dan kerenanya tidak tepat jika ditafsirkan oleh pemerintah untuk mengajak masyarakat meringankan beban negara dengan membebankan biaya vaksinasi ke masyarakat. 
 
Faktor sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan, salah satu hal yang menjadi kendala masih adanya pandangan negatif terkait vaksin karena mengandung tripsin babi, adanya persepsi masyarakat terkait vaksin karena mengandung merkuri berbahaya dan adanya persepsi masyarakat terkait vaksin karena dapat menyebabkan autisme. Informasi yang berbeda-beda dari para masyarakat dapat memunculkan hoax atau isu terkait dampak vaksin sehingga tingkat kepercayaan masyarakat akan vaksin masih rendah. Semua faktor ini menjadi hambatan untuk melakukan vaksinasi. 
 
Upaya dalam Meminimalisir Stigma Negatif Covid19 di masyarakat
 
1. Komunikasi resiko yang lebih baik
 
2. Pemberitaan media terkait informasi yang utuh soal penularan virus yang selama ini sering tidak sampai ke masyarakat sangat mempengaruhi stigma terhadap orang terkait Covid-19 baik itu orang tanpa gejala (OTG), orang dalam pantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), pasien positif dan keluarga pasien serta tenaga kesehatan.
 
3. Media yang hanya fokus pada pertumbuhan kasus dan kurangnya keterbukaan informasi perihal penanganan Covid-19.
 
Editor: Nurmalia Ermi dan Karni
 
Sertifikat
Sertifikat kampung English
HKN
STIa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar

0 comments